▪︎ _*Lebih Baik Hatiku Dicabut Dari Dadaku Daripada Ibuku Diambil Dariku*_ ▪︎
Dikisahkan oleh salah seorang Hakim di Kerajaan Arab Saudi :
"Suatu hari, 2 orang lelaki datang berselisih di hadapan saya. Yang satu berusia sekitar *60 tahun atau lebih*, dan yang satunya *lebih muda*.
Saya bertanya :
"Apa yang kalian bawa ke sini?"
Mereka menjawab :
"Wahai Hakim, putuskanlah perkara kami dengan petunjuk dari Allah, dan berikanlah keputusan yang adil."
Lalu sang Kakak mengatakan :
"Ini Adikku, *setelah 30 tahun ia tidak ada*, ia ingin mengambil Ibu dariku!"
Saya pun terkejut dan bertanya :
"Bagaimana bisa?"
Sang Adik menjelaskan:
"Wahai Hakim, aku pergi *bertugas militer (berperang) selama 30 tahun*. Ayah kami telah wafat, dan ibu tinggal bersama Kakakku. Ia menikmati kesempatan berbakti, merawat, memberi nafkah, duduk bersama, dan dekat dengan Ibu"
"Kini aku ingin *berbakti* seperti dia, *melayani* Ibu seperti yang ia lakukan, dan *merasakan kedekatan* yang sama. Bukankah dia Ibuku juga, seperti dia Ibunya?"
Saya pun tertegun. 2 lelaki dewasa berselisih *bukan karena harta atau warisan*, –tapi karena masing-masing ingin berbakti kepada Ibunya! Jiwa seperti apa yang bersaing dalam kebaikan seperti ini?
Sang Kakak mengatakan:
"Demi Allah, *lebih baik hatiku dicabut dari dadaku daripada kau mengambil ibuku dariku!*"
Sang Perawi berkata :
"Hakim pun *menangis*, sang Kakak *menangis* dan si Adik pun *menangis*. Sebuah pemandangan yang tak akan terlupakan."
"Sebesar apa pun bakti seorang anak kepada Ibunya, takkan mampu membalas satu tetes air mata yang ia tumpahkan saat melahirkannya. Air mata itu sendiri adalah *timbangan seumur hidup dari kebaikan."*
- Disampaikan kala itu oleh Syaikh Muhammad Al-Khadsyi _Hafidzahullah_. -
🖋️ _Pena Perjalanan_
-----✨️====✨️----●
_Di dalam Bus perjalanan pulang dari Universitas_.
Senin, 20 Oktober 2025
Instagram.com/penaperjalanann